Jumat, 28 Maret 2008

BERGUNA UNTUK BANGSA

CERPEN BERGUNA UNTUK BANGSA


“Bangsa… Bangsa, kamu ini ya jangan aneh-aneh. Jadi orang biasa saja yak an sudah susah.”,Kata seorang lelaki tua kepada anaknya. “Gak mau ah pak.” Sahut anak haji Imran itu. “Bosen jadi biasa-biasa saja.” Sejak kecil Bangsa yang selalu berfikir bahwa tak perlu jadi orang biasa karena hal biasa itu belum tentu benar. Hal yang di anggap biasa adalah hal yang sering di lakukan oleh masyarakat. Bagaimana jika yang mereka biasa lakukan adalah sebuah kesalahan? Kesalahan yang di tinggalkan jaman kebodohan dulu yang masih lestari hingga saat teknologi ini. Jika yang benar di anggap aneh, kenapa aku gak berbuat aneh saja. Biar aneh asal benar. Toh biasa di suatu tempat belum tentu dianggap biasa ditempat lain. Aneh sekarang belum tentu aneh juga dimasa depan. Banyah juga ilmuan yang dulu di anggap aneh namun sekarang di puji-puji.Begitulah kira-kira pemikiran si Bangsa.
Bangsa yang diberi petuah oleh bapaknya karena ia sering berdiam diri dan tidak mau ikut berramai-ramai ria dengan teman-teman sekelasnya. Dia lebih memilih duduk saja di bangku dan tidak melakukan apa-apa. Hal itu membuat teman-temanya menganggapnya aneh dan mungkin juga gurunya. Yang pasti wali kelas Bangsa menganggap ia tak dapat bersosialisasi dengan baik dan melaporkanya kepada orang tuanya.
Pada saat diberi nasihat oleh bapaknya,bangsa hanya berfikir di kepalanya. Berfikir macam-macam yang aneh-aneh. Lalu ketika bapaknya berkata “Kamu itu kok sukanya berdiam diri di kelas. Kata guru kamu Bu ines, kamu sukanya duduk di bangku sendiri. Ngak mau bergaul? Mau jadi orang sombong?”
Kata-kata itu tak mampu di jawabnya. Atau lebih tepatnya tak mau.Dia berkata pada dirinya sendiri di dalam hatinya. “ Daripada saya harus ikut jingkrak-jingkrak, nyanyi-nyanyi, ngrumpi keras-keras di kelas atau malah bokepan mending saya diam di bangku. Dikatain sombong biarin deh,emang nasib” Dia tak mengucapkan satu kata pun dari mulutnya. Terkunci rapat diam seribu bahasa sebagai rasa hormat.
“Kamu tu yang normal-normal saja to sa.”Ucap ayahnya lagi. “wah kalo yang di anggap normal itu yang kayak temen-temenku. Mending jadi orang aneh dech.” Ujar Bangsa dalam hatinya lagi. Dia tak mau mengucapkan apa-apa. Banyak alasan untuk tak mengucapkan hal yang di pikirkannya. Dan mungkin salah satunya adalah dia masih punya hati dan sifat dasarnya yang malas yang membuatnya malas untuk mencari masalah dengan mengucapkan itu semua. Hal yang ada di kepalanya.
Setelah melihat bapaknya hanya diam dan akhirnya berpaling ke tempat lain. Bangsa berfikir mungkin petuah bapaknya sudah habis. Bapaknya kehabisan kata-kata untuk mengatasi anak semata wayangnya ini. Merdeka pun ngluyur ke tempat lain. Dia pergi ke warnet. Surfing di internet merupakan hal yang sedang popular saat ini. Dan bangsa bukan orang yang gaptek walaupun agak bodoh dan pemalas.
Hari itu Bangsa berselancar di internet mulai jam 9.00-16.00. Karena hari ini dan dua hari ke depan ruang kelas bangsa di gunakan untuk try out anak kelas XII. Dia pun mendapat liburan dan dapat berlama-lama di warnet.
Setelah itu hari berganti dengan biasa-biasa saja. Kenaikan kelas pun Bangsa lewati dengan nilai biasa-biasa saja agak menengah kebawah. Sesuai dengan kecerdasannya dan sifat pemalasnya itu.
Suatu hari saat Bangsa sedang menimba ilmu bahasa inggris di sekolah. Saat itu dia diberi tugas oleh sang guru tentang “What does it mean to be Indonesian?” karena akan di adakan lomba bahasa inggris dengan tema itu. Namun bangsa tidak berminat mengikuti lomba itu. Karena yak berminat dia hanya mendengarkannya saja sembari merogoh kantong mencari hp. Saat jemarinya menyentuh hp di dalam saku. Seketika itu juga ia merasakan bahwa hpnya bergetar. Itu berarti ada telpon dari orang tua nya.
Bangsa memang sudah menatur agar saat sekolah hp nya hanya akan menerima panggilan dari kedua orang tuanya saja.
Langsung setelah merasakan ada panggilan,Bangsa berdiri dan berjalan mendekati gurunya yang berada di depan kelas. Dia meminta ijin untuk pergi ke kamar kecil. Dia pun berjalan keluar menuju toilet yang berada di sebrang kelasnya. Di toilet Bangsa mengangkat telpon yang ternyata dari ibunya. “Halo,Ada apa bu?” Tanya Bangsa. Dari ujung telepon terdengar suara seperti tangisan. Bangsa pun cemas. Ia takut terjadi apa-apa pada ibunya tercinta.
“Bapak sa,Bapak….”Ujar Ismi ibu Bangsa.
“Kenapa Bu,bapak kenapa?”
“Bapak masuk rumah sakit sa.”
“Kenapa?”
“Sudah sekarang kamu minta ijin pulang. Kamu kesini. Ke rumah sakit dekat rumah.”
Bangsa pun langsung menutup telponnya dan berlari menuju kelas untuk mengambil barang –barangnya dan meminta ijin. Ia bergerak dengan cepat bagai di kejar-kejar setan.Setelah meminta ijin kepada guru Bk. Ia pun menuju rumah sakit mengendarai motornya.
Di rumah sakit, dia masuk ke sebuah ruang icu di mena bapaknya terbaring. Bangsa menunduk khawatir disebelah bapaknya yang lalu bercerita bahwa ia sudah sakit sejak setengah tahun lalu. Bangsa pun meneteskan air mata kesedihan setelah tau bahwa bapaknya sekit namun tetap berjuang dan bekerja keras untuk menghidupi dia dan ibunya. “Bangsa, sudah bapak ndak usah kamu tangisi. Yang penting kamu hargai usaha bapak. Kamu jaga ibumu. Kamu jadi orang yang berguna buat bangsa.” Sambil menutup mata dan berusaha menahan tangis Bangsa menjawab, “ Ya pak, saya akan berguna bagi bangsa dan menjaga ibu.” Saat bangsa sudah tak meneteskan air mata lagi. Bangsa membuka matanya. Sesaat pandangannya buram. Ketika pandanganya mulai fokus ia melihat hal yang tak ingin dia lihat. Jasad bapaknya yang menutup mata dan tak bergerak yang ia lihat. Mata ttutup dan senyuman di wajahnya.
Tangis bangsa kembali pecah. Mendengar tangisan Bangsa ibunya yang baru datang selah di minta membeli obat pun berlari masuk. Seolah langsung sadar melihat keadaan suaminya. Ia kut menangis di samping Bangsa.
Beberapa hari setelah kematian bapaknya. Setelah kesedihan Bangsa reda. Bangsa mengingat pesan terakhir bapaknya yang sangat dermawan selalu membantu sampunya dan baik hati walaupun bukan dari keluarga kaya. Dia ingi mewujudkan permintaan bapaknya. Namun ia tak tau bagaimana harus memulainya. Di tengah pemikirannya mencari jalan tuk berguna bagi basa ini. Dia teringat pada lomba bahasa inggris di sekolahnya. “Sebelum saya ingin berguna bagi bangsa Indonesia. Lebih baik saya tau jadi baa Indonesia itu apa?” pikirnya dalam hati. Dia berfikir jika tau apa maksudnya jadi bangsa Indonesia. Pasti tau bagaimana berguna bagi bangsa ini.
Dia pun mulai menghadap computer butut pemtium III nya. Dia mulai berfikir. Namun hanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul bahkan tak memilika jawaban.
Mulai dari Siapa itu orang Indonesia? Karena Bukankah bangsa ini bangsa yang luhur? Apakah hanya dengan lahir di Indonesia maka akan jadi orang Indonesia? Bukan kurasa bukan.Jika seorang lahir di Indonesia namun tak cinta Indonesia. Bukankah ia bukan orang Indonesia? Karena pusing ia memikirkan hal tersebut berhari-hari. Ia juga bertanya pada temannya. Temanya pun menjawab. Bahwa orang Indonesia itu adalah jajaran pemerintah. Dengan sedikit argument bahwa syarat menjadi anggota pemerintahan adalah warga Negara Indonesia. Bangsa pun setuju dan pada saat sampai di rumah ia berniat memulai menulis bahwa orang Indonesia adalah para jajaran pemerintahan.
Sebelum mulai menulis, Bangsa memilih untuk makan malam terlebih dahulu. Ia makan bersama ibunya yang sedang menonton tv. Ia makan di sebelah ibunya di ruang tv. Ibu Bangsa menonton acara berita. Dan ada sebuah berita yang menggugah pemikiran bangsa. “Pejabat Departemen K ertangkap basah. Sedang melakukan Transaksi dengan seorang anggota keluarga terpidana…….” Berita yang di ucapkan pembawa berita tv itu membuat Bangsa urung menuliskan Bahwa para jajaran pemerintah adalah orang Indonesia.
Tanpa sada ia berkata “Dasar pejabat. Bukan orang Indonesia. Nggak bisa di percaya.” Ibunya yang mendengar menanggapinya.”tapi kan masih ada pejabat yang bersih.” Bangsa yang bicara tanpa sadr tertegun dan berfikir sejenak sebelum akhirnya memperoleh jawaban atas tanggapan ibunya. “Iya bu. Tapi bukankah para pejabat bekerja tidak sendiri-sendiri? Berarti seharusnya pejabat-pejabat lain tau bahwa ada pejabat yang korupsi atau berbuat salah. Namun nyatanya tidak ada kan pejabat yang melaporkan pejabat lain korupsi? Mereka malah sengaja menyimpannya atau malah ikut berkorupsi berjamaah. Dan jika tak peduli pun dan tak ikut korupsi. Jika mereka tak melakukan apa-apa. Mereka tetap melakukan kesalahan. Karena tau bahwa ada penjhat di pemerintahan tetapi membiarkannya atau pura-pura tak tau. Berarti mereka membiarkan Negara ini di rusak . Mereka juga nggak bener. Bukankah di hukum kita juga ada pasal yng mengatakan melindungi atau membantu sebuah kejahatan itu dilarang? Membiarkan juga termasuk melindungi dan membantu bukan?.” Ibunya yang memang cerdas tau maksud anaknya diam karena memang anaknya benar. Ia sebenarnya malu juga sebab ia adalah PNS walaupun tak menduduki jabatan tinggi, tetapi ia sadar bahwa banyak sekali kesalahan pada abdi-abdi Negara. Bahkan termasuk dirinya.Bangsa pun tidur dengan kecewa karena ia belum juga mendapat jawaban atas pertanyaannya sendiri.
Ke esokan harinya. Bangsa berangkat ke sekolahnya. Sebuah sekolah yang tergolong favorit yang bangsa tak yakin itu sekolah favorit atau tidak. Itu di sebabkan banyak sekali hal yang di mata bangsa tak bisa di banggakan. Contohnya di sekolah bangsa menyontek bersama-sama merupakan hal biasa atau malah wajib.
Namun ada sedikit bagian yang bisa di banggakan karena banyak temannya yang juara olimpiade se Indonesia atau bahkan se dunia. Ada juga ahli-ahli musik juga guru-guru yang pandai. Tapi ada juga guru yang hanya bisa ngomong tanpa praktek, tempramen, ada juga yang agak nyeleneh.
Di sekolah ia bertemu teman yang baru pulang dari kejuaraan fisika internasional. Dia bertanya, “ Don kamu kan anak pinter. Tau nggak orang yang berguna bagi bangsa yang bisa di sebut orang Indonesia?” Doni yang sombong menceramahi Bangsa lama sekali. Bukan Cuma menjawab ia mengolok olok Bangsa dengan kata-kata tinggi yang merendahkan. Dia menjawab yang intinya bahwa yang berguna adalah anak-anak pandai yang dapat menangkan lomba bertaraf internasional. Karena dengan begitu maka dia memperkenalkan bangsa ini pada dunia. Mengankat martabat bangsa. Bukan seperti Bangsa yang bodoh dan pemalas.
Bangsa yang tidak tahan di omelin oleh doni berfikir. Dan dalam sekejab ia mendapat jawaban yang dapat membalas kata kata Doni yang pedas. Bangsa berkata setengah berteriak “Iya kamu memperkenalkan Indonesia ke mata dunia. Tapi kamu sadar nggak? Kamu membuat bangsa lain ingin tau tentang bangsa ini. Tapi apakah mereka hanya akan tau tentang sesuatu yang baik di Indonesia? Nggak!!! Mereka akan jadi tau semua tentang kita belajar tentang kita. Semua. Termasuk keburukan-keburukan bangsa ini. Banyaknya koruptor di bangsa ini. Banyak sekali anggota bangsa ini yang berjiwa koruptor. Orang yang tega membiarkan saudara sebangsanya mati kelaparan hanya untuk menambah kekayaanya. Hanya untuk beli mobil. Kamu piker itu pantas di banggakan ke dunia? Kebobrokan bangsa ini? Kebobrokan moral? Bahkan siapa tau mereka malah memanfaatkan kebobrokan moral kita dan kebodohan kita untuk memanfaatkan bangsa ini? Bukankah itu merugikan bangsa ini? Dan kamu yang menyebabkan kamu tu bodoh. Kalau pamer ke dunia itu mikir-mikir dulu. Bukankah ada pepatah jawa MIKUL DHUWUR MENDEM JERO yang artinya junjung tinggi keburukan dan simpan rapat rapat kesalahan masa lalu.kalau bisa perbaiki. Kalau kamu itu MIKUL DHUWUR MENDEM KENTIP atau memamerkan kebaikan namun lebih memamerkan keburukan lebih tinggi. Kamu kan orang jawa. Masak itu saja tak tau. Dasar fisikawan goblok.” Mendengar perkataan itu. Doni diam dan ngeluyur pergi. Bangsa pun tertawa bahagia setelah membalas Doni.
Namun walaupun Bangsa tertawa. Dalam hatinya ia juga merasa bersalah karena sebagai pelajar ia tak bis berbuat apa-apa untuk berguna bagi bangsa ini. Sejak saat itu ia pun menyerah untuk mencari jawaban atas siapa orang Indonesia dan mulai belajar giat dan memilih tujuan untuk menjadi cerdas agar dapat merubah bangs ini. Ia tersadar oleh perkataan Doni. Ia harus mengubah bangsa ini menjadi baik dahulu sebelum memamerkan bangsanya.
Setelah kejadian tersebut Bangsa menjadi anak yang rajin. Dia melewati kenaikan kelas dan kelulusan dengan nilai terbaik di Indonesia. Ia pun masuk ke universitas terkenal di Jakarta. Ia memilih jurusan hukum untuk dapat mengubah bangsa ini. Ia juga aktif dalam BEM dan sering melakukan demonstrasi untuk menentan yang salah dan mendukung yang benar. Bangsa sering melakukan kegiatan-kegiatan itu. Beberapa kali masuk penjara. Namun ia tak gentar. Bahkan ia bertemu dengan teman akrab di depan penjar. Ia mendapat sahabat di sana.Nemanya santi. Ia menjadi sahabat bangsa karena memiliki kesamaan pemikiran.Santi sering bersama-sama melakukan demo.
Karena seringnya bersama-sama. Tumbuh benih cinta di keduanya. Dan pada saat selesai melakukan orasi. Mereka bersama-sama pulang menaiki mobil santi. Di dalam mobil sejenak mereka berhadap-hadapan saling memandang dan melihat wajah satu sama lain. Wajah mereka saling berdekatan. Hingga bibir mereka mendekat. Dan setelah itu…… KRRRRRIIIIIIIIIIIINGGG TILLLLIT TUUUUI Terdengar bunyi hp Bangsa. Telepon dari nomer tak di kenal. Ia mengankatnaya. Dan terdengar suara wanita berkata “ Apakah benar ini saudara bangsa? Ibu anda meninggal di rumah sakit di dekat stasiun.”
Bangsa yang kaget mendengar hal tersebut langsung meminta santi untuk mengantarnya ke rumah sakit dekat stasiu. Ia tak menyangka bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk pada ibunya. Sebab ia hanya pergi selama 3 hari. Jantungnya pun berdebar dan ia menyesali dirinya sendiri. Ia tak mau kehilangan orang tuanya lagi.
Sampai di rumah sakit Bangsa hanya diam di sebelah jasad ibunya. Bahkan menangispun ia tak bisa. Santi yang seolah mengerti apa yang di rasakan oleh Bangsa itu tak mau mendekat dan hanya berdiri jauh dari bangsa. Ia bertanya pada suster mengapa Ibunya meninggal. Tetapi tak ada yang menjawab. Hanya seorang pria tua yang datng menghampiri dan berkata bahwa ia yang menemukan ibu Bangsa yang di tabrak oleh mobil yang langsung klabur. Ia berkata bahwa saat ia membawa ibu Bangsa masih hidup. Namun karena tak segera di beri pertolongan maka ia meninggal.Rumah sakit berkata tak mau mengoprasi jika tak ada jaminan biaya. Karena ibu itu membutuhkan operasi besar dan pasti tak murah. Lalu ada seorang yang mengaku mengetahui tentang ibu itu. Dia memberikan sebuah nomer telepon pada suster. Nomer telepon bangsa.
Sejak saat itu Bangsa tak lagi Optimis. Dia seolah kehilangan segalanya. Bahkan Ia tak mempedulikan santi lagi. Itak memikirkan bangsanya. Ia hanya berfikir mengapa ia yang berusaha menolong bangsanya. Tetapi malah kehilangan orng tua nya karena rumah sakit bangsa yamg ia bela tak mau melakukan operasi hanya karena tak ada yang menjamin biaya.
Suatu hari santi datang dan memberi kabar bahwa yang menabrak ibu Bangsa adalah anak buah dari pejabat yang pernah di buat mundur oleh bangsa. Santi mengajak Bangsa menuntut pejabat tu. Namun itu hanya membuat bangsa tambah marah. Sudah berbulan-bulan Bangsa tak lagi bersuara apa pun. Hanya berbuat seenaknya. Bahkan terkadang mabuk-mabukan dan sekarang sudah tak peduli apapun.Bahkan pada diri sendiri. Ia berubah dari pemuda gagah menjadi pemuda kummel tek terurus dan sangat kurus. Namun ia kini bersuara. “Percuma, itu tak kan mengembalikan orang yang telah mati. Aku sudah tak peduli lai!!!!!!”
“Tapi sa? Apa kamu mau diam saja melihat bangsa kita hancur?”
“ Maasa bodoh dengan bangsa ini. Mengapa harus memikirkan mereka? Mereka pun tak memikirkan ku. Hanya membuat aku kehilangan orang tua.”
“Tapi Sa? Apa kamu juga akan menghianati permintaan bapak kamu yang mengingin kan kamu berjuang untuk bangs ini?”
Bangsa tertegun. Namun ia terlanjur tak mau peduli lagi. Ia pun hanya menjawab. “ Tidak aku tak akan menghianati bapakku. Bapakki menginginkanku berguna bagi bangsa. Dan aku akan berjuang untukku sendiri. Persetan dengan orang lain. Aku ini Bangsa, aku akan berguna hanya untuk diriku sendiri. Persetan dengan apa-pun. Aku tak menghianati engkau pak. Aku berguna untuk Bangsa seperti yang kau minta. Berguna untuk diriku sendiri.

Tidak ada komentar: